20 Juli 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Sungai Suka Rahmat Kering, Warga Krisis Air dan Gagal Panen


Sungai Suka Rahmat Kering, Warga Krisis Air dan Gagal Panen
Kondisi Sungai Teluk Pandan mengering akibat musim kemarau sejak setahun terakhir. Foto ini diambil Klik Bontang, Minggu, 21 Februari 2016. (KLIKBONTANG/IMRAN)

KLIKSANGATTA – Sungai di Desa Suka Rahmat, Kecamatan Teluk Pandan, Kutai Timur (Kutim) dilanda kekeringan. Kekeringan yang disebabkan kemarau panjang itu berbuntut krisis air bersih warga dan gagal panen petani.

Bencana kekeringan tersebut ditemui awak media ini saat berkunjung ke RT 6 Desa Suka Rahmat, Kecamatan Teluk Pandan, Minggu, 21 Februari 2016.

Pantauan lapangan di RT 6, Desa Suka Rahmat, Minggu, 21 Februari 2016, kekeringan terlihat pada aliran sungai selebar sekira 6 meter dengan kedalaman sekira 7 meter.

Sungai yang membentang di sepanjang wilayah desa itu, terlihat mengering menampakan dasarnya, yang juga telah tampak retak akibat tak terjamah air dalam waktu lama.

Tak ayal, pipa paralon berbagai ukuran milik warga setempat, hanya terpampang dan tak bekerja.

Maklum, wilayah yang dihuni 130 Kepala Keluarga (KK) itu belum tersentuh aliran air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kutim.

"Ada 130 KK yang tinggal di RT 6 ini. Dan sumber air bersihnya, masih mengandalkan sumur dan air sungai," jelas Asriani Sekretaris RT 6 Desa Suka Rahmat, saat ditemui di kediamannya.

Bencana kekeringan tersebut, diakui menjadi pukulan berat bagi warga. Sebagai solusi, warga setempat harus merogoh kocek sebesar Rp 200 hingga Rp 250 ribu demi memperoleh air bersih untuk kebutuhan rumah tangga.

"Mau enggak mau, kami harus beli air bersih. Satu tangki harganya 200 sampai 250 ribu dari penjual air. Meski pun mahal, kami harus beli supaya tetap hidup," tukasnya.

Kekeringan itu pula yang menyebabkan para petani setempat mengalami gagal panen. Namun, untuk hal satu ini tak ada solusi, selain pasrah.

"Kalau air untuk rumah tangga masih bisa beli.Tapi kalau untuk menyiram tanaman, petani di sini enggak bisa apa-apa. Bagi mereka, itu sudah takdir," tutupnya. (*)

Pembaca yang budiman, terima kasih sudah berkunjung. Kami juga hadir di facebook kliksangatta dan twitter @kliksangatta. Selamat beraktivitas

 

Reporter : Imran Ibnu    Editor : Andi Marta



Comments

comments


Komentar: 0