23 Juli 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Eksklusif Berita Rekomendasi

KPC Jawab Sikap Mahasiswa, Keselamatan Jadi Alasan Evakuasi Dahlia


KPC Jawab Sikap Mahasiswa, Keselamatan Jadi Alasan Evakuasi Dahlia
Superintendent Public Communication Dept. External KPC Yordhen Ampung (tiga kiri) bersama karyawan lainnya saat berdiskusi bersama perwakilan organisasi mahasiswa Kutim di Cafe Ungu, Road 9, Selasa (23/2/2016). (KLIKSANGATTA/QADLIE)

KLIKSANGATTA – Meneruskan sikap serta surat dari elemen mahasiswa dalam Gabungan Mahasiswa Kutai Menggugat, PT Kaltim Prima Coal (KPC) memfasilitasi pertemuan untuk mengklarifikasi dugaan kekerasan pada Dahlia, warga Bengalon, yang berselisih lahan dengan perusahaan.

Duduk bersama itu digelar di Café Ungu, Road 9, Selasa pagi 23 Februari 2016, dihadiri perwakilan manajemen KPC dan dua perwakilan pengurus cabang organisasi mahasiswa gabungan, yang terdiri dari GMNI, PMII, HMI, BEM STIPER dan BEM STAIS.

Mewakili manajemen KPC, General Manajer External Affair and Sustainable Development Husein Akma melalui Superintendent Public Communication Yordhen Ampung, mengapresiasi langkah mahasiswa mencoba menghimpun keterangan dari semua pihak terkait sebelum menghakimi perusahaan tanpa adanya landasan yang diperlukan.

“Kami menyambut baik sikap dan surat dari rekan-rekan mahasiswa terkait permintaan untuk melakukan klarifikasi. Maka kami pun menyiapkan kesempatan ini untuk berdiskusi bersama dan tanya jawab terkait isu yang santer beredar di media,” tutur Yordhen didampingi enam karyawan lainnya.

Mengawali diskusi, dari mahasiswa menanyakan kebenaran rekaman video dan keterlibatan oknum KPC dengan dugaan kekerasan berupa penyeretan paksa Dahlia dari areal tambang. Diketahui, pasca kejadian itu Dahlia dimasukkan ke RSUD Kudungga untuk mendapatkan perawatan medis.

“Kehadiran kami di sini bukan mengartikan keberpihakan kami pada pihak manapun sebelum mengetahui kejadian yang sebenarnya. Perlu kiranya keterangan seperti kronologis saat kejadian juga disampaikan,” ujar Anshari dari BEM STIPER.

Menurut kronologis dalam penuturan Yordhen, Dahlia beserta suaminya Salleng, telah berada di atas lahan seluas 13 hektare di KM 84 Jalan Wahau Lama, Desa Sepaso Selatan, Bengalon, yang telah dibebaskan KPC pada tahun 2008 silam.

Bersama keluarganya sejak Agustus 2015 lalu, mereka menempati pos PAMA yang digunakan untuk beristirahat dan shalat pekerja.

Pos itu berjarak kurang lebih 1.300 meter dari radius peledakan atau blasting yang hendak dilakukan KPC pada 5 Februari 2016. Mengetahui adanya rencana blasting, Dahlia justru bergeser dan membangun tenda yang hanya berjarak 50-70 meter dari area blasting.

Tenda itu sendiri dibangun di atas lahan seluas 5 ha yang juga diklaim oleh Salleng.

“Lahan 5 ha itu berbatasan langsung dengan blasting. Kalau melihat kebiasaannya, mereka tahu prosedur blasting yakni untuk jarak aman alat 300 meter sementara untuk manusia 500 meter. Blasting juga hanya bisa dilakukan di atas jam 8 pagi sampai 5 sore. Di jam-jam itu pula mereka bertahan, lalu pulang ke rumah,” sebut Yordhen.

 

Halaman Selanjutanya>>>



Reporter : Qadlie Fachruddin    Editor : Andi Marta



Comments

comments


Komentar: 0