23 Juli 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Kawah Putih Bandung, Keindahan Belerang Dibalik Pohon Rindang


Kawah Putih Bandung, Keindahan Belerang Dibalik Pohon Rindang
Keindahan Kawah Putih Bandung dengan latar pepohonan hijau (KLIKSANGATTA/ADNAN MALLEWA)

Jalanan di Jakarta tampak sepi ketika kami meninggalkan Hotel pertengahan Januari 2016. Hari itu sudah agak siang, kami berjalan menuju Jl Jenderal Sudirman untuk mencari Kopaja (angkutan umum).

Seorang pria tua, dengan baju putih yang sudah kekuningan duduk di bawah jembatan penyeberangan. Di lehernya terdapat sempritan berwarna merah.

Kami mendekat ke arahnya, senyuman sapaan darinya kami sambut ramah. “Maaf pak Kalau mau menuju Terminal Gambir, saya harus menggunakan Bus apa?,” tanyaku.

“Tunggu saja di sini bus Kopaja dengan nomor 15,” ungkapnya. Tak lama kami berdiri di pinggir jalan, bus yang kami tunggu akhirnya berhenti. ”Terminal Gambir….Naik….naik..,“ jelasnya, dengan suara lantang.

Dari sana kami membayar tiket Rp 4.000 dengan jarak tempuh, kurang lebih 10 menit. Tiba di Terminal Gambir, kami langsung masuk dan mencetak tiket yang telah kami booking malam sebelumnya, dengan harga tiket Rp 40.000 per orang.  

Kereta akan berangkat pukul 11.20 Wib, untuk itu kami harus menunggu sekitar dua jam lagi. Kami putuskan nongkrong di kafe sambl ngopi dan diskusi soal tempat wisata di Bandung.

Usai menyeruput kopi dan melahap makan siang, teman petualangan saya, Ana, membunuh waktu menunggu dengan membaca buku sejarah Kamboja. Sementara saya, larut dalam novel Cuba and The Night yang karya Pico Iyer.

Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat. Suara lembut perempuan dari pengeras suara mengumumkan kereta dari Jakarta tujuan Bandung segera berangkat. Kami bergegas. Usai cek tanda pengenal, kami masuk ke dalam kereta yang berada di lantai dua.

“Saya tidak bisa membaca atau menulis di dalam kereta. Jadi saya kebanyakan mendengarkan wawancara dan diskusi tentang buku atau permasalahan sosial yang saya download di handphone saya. Bagaimana denganmu?,” tanya Ana.

“Sama sepertimu, saya akan muntah bila membaca atau mengerjakan hal lain yang membutuhkan konsentrasi tinggi,” kataku

Awalnya kami disuguhi pemandangan gedung pencakar langit dari balik jendela. Tak lama, pemandangan berpindah menjadi frame pemukiman kumuh di pinggiran Ibukota.

Setelah tiga jam berlalu, gugusan sawah yang hijau, dan gunung-gunung sangat memanjakan mata kami. Seperti meninabobokan, sehingga kami tertidur pulas.

Ketika mendekati kota Bandung, kami terbangun dan menengok kiri dan kanan jalan sambil tersenyum dengan suka cita. Akhirya petualangan yang sebenarnya akan dimulai.

Tiba di Kota bandung, saya menghirup udara yang begitu sejuk, sore itu. Langit mulai gelap, dan kerumunan orang menawarkan angkutan menjadi sambutan selamat datang kami di Kota Bandung. 

Beruntung, tempat menginap kami tak jauh. Hanya butuh waktu 10 menit berjalan kaki, kami tiba di Hotel Gado Gadu. Usai melepas backpack dan perlengkapan lain dalam kamar hotel, kami berburu kuliner sekaligus menikmati suasana malam kota berjuluk Paris Van Java.

Cukup puas menikmati Bandung, kami kembali ke Hotel untuk menyusun rencana menyatroni Kawah Putih, Ranca Upas Smart Camp Adventure dan Situ Pattenggang.

Yang pasti kami butuh sepeda motor untuk bisa sampai. Malam itu juga, kami mencari sewa sepeda motor untuk sehari penuh. Deal, Rp 120.000 per hari, motor siap berangkat.

Saatnya istirahat. Kami masuk kamar dan sedikit sharing tentang perjalanan sebelumnya, hingga akhirnya tertidur pulas.

Udara pagi yang sejuk dan matahari yang menyelinap melalui jendela kamar hotel membangunkan saya. Ana ternyata juga sudah bangun. 

Sarapan pagi dari hotel sudah tersedia. Namun kami memilih untuk menunda sarapan, dan mempersiapkan semua peralatan tempur sebelum berangkat ketiga lokasi tersebut.

Halaman Selanjutnya--->>>



Reporter : Adnan Mallewa    Editor : Eky Sambora



Comments

comments


Komentar: 0