20 Juli 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Mau Sehat? Jangan Asal Sarapan


Mau Sehat? Jangan Asal Sarapan

KLIKSANGATTA - Ada baiknya, sarapan menjadi bagian pagi hari sebelum memulai aktivitas, terutama pada anak-anak. Pasalnya, sarapan akan mengisi energi tubuh untuk lebih siap beraktivitas. Namun, bukan berarti bebas sarapan apapun, yang penting kenyang. Pilih menu sarapan sehat, agar kebutuhan nutrisi tubuh terpenuhi.

Prof. Hardinsyah, Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia mengatakan, sarapan yang sehat harus mengandung karbohidrat, protein, dan lemak agar tubuh sehat dan kuat. “Ada karbohidratnya, bisa dari nasi dan roti, ada lemaknya, dan protein atau lauk seperti telur, ikan, ayam, tahu dan tempe,” ujarnya saat ditemui dalam acara Kerjasama Blue Band dan TP PKK DKI Jakarta.

Menurutnya, sarapan sangatlah penting, terutama bagi anak-anak. Akibat yang ditimbulkan dari tidak sarapan adalah perut keroncongan, lesu, mengantuk, kurang konsentrasi, dan tidak bersemangat. “Sarapan bisa membuat anak fokus di kelas, tidak mengantuk, menambah semangat, dan tidak menjadi telmi (telat mikir),” kata Prof. Hardinsyah.

Sayangnya, masih banyak anak tak sarapan, salah satu alasannya karena masalah waktu. Untuk menyiasatinya, orangtua harus mengetahui mengapa anak tak mau sarapan. Misalnya, anak takut terlambat ke sekolah. Jika itu alasannya, berarti orangtua harus membuat sarapan yang cepat saji seperti roti, atau nasi goreng.

Namun, agar memenuhi syarat sarapan sehat, jangan lupa menambahkan sayuran di dalam roti atau nasi goreng. Selain itu, tambahkan margarin yang mengandung omega 3 dan 6 serta telur sebagai protein. 

Yang juga harus diperhatikan adalah memilih makanan yang cocok untuk perut di pagi hari. Pasalnya, kondisi perut setiap orang berbeda. Bahkan, ada sebagian orang yang enggan sarapan karena takut sakit perut.

“Bisa jadi, orang tersebut tidak terbiasa sarapan. Karena itu, penting menemukan makanan yang mudah menyesuaikan dengan kondisi perut. Sering kali, yang cocok dengan perut kita itu roti, tapi kita malah makan nasi. Kalau sudah tahu, jangan diteruskan, ganti menu dengan yang cocok,” ujar Prof Hardinsyah. (*)

Reporter : Inara Dafina    Editor : M. Nasir



Comments

comments


Komentar: 0