16 Juni 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Menuju Warisan Dunia, Pemetaan Gua Karst Gunakan Laser 3 Dimensi


Menuju Warisan Dunia, Pemetaan Gua Karst Gunakan Laser 3 Dimensi

KLIKSANGATTA – Hampir satu bulan berada di pedalaman, Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Samarinda menggelar seminar Hasil Delineasi Kawasan Karst Sangkulirang – Mangkaliat di Ruang Tempudau, Sekretariat Kabupaten Kutai Timur, Kamis 12 November 2015.

Sosialisasi ini difasilitasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim dan mengundang instansi lain seperti Bappeda Samarinda, Dinas Tata Ruang Kutim dan Dishubkominfo. Kehadiran SKPD dan lembaga tersebut guna melakukan koordinasi jelang penentuan nominasi Warisan Dunia oleh UNESCO.

Sejak didaftarkan 5 tahun yang lalu, baru di awal tahun ini Kawasan Karst Sangkulirang Mangkaliat berhasil dalam daftar calon sementara (tentative list). Untuk bisa memenuhi syarat menjadi salah satu warisan dunia, UNESCO mengharuskan kawasan cagar budaya memiliki zonasi yang jelas. Langkah awalnya adalah delineasi, yakni penggambaran kawasan yang dianggap penting secara geografis.

Hadir sebagai narasumber, Dosen Arkeologi Universitas Hasanuddin Yadi Mulyadi mengatakan, delineasi adalah upaya awal agar kawasan cagar budaya mendapatkan kepastian wilayahnya. Karena menempati ruang, kawasan cagar budaya perlu dipetakan dan dilegitimasi agar mendapat jaminan pelestariannya.

“Pentingnya delineasi agar kawasan cagar budaya tetap lestari. Dengan itu, upaya pengembangan lanjutan dapat ditingkatkan,” ujarnya.

Sejauh ini, delineasi sudah berhasil memetakan 32 gua lengkap dengan pendokumentasiannya. Aktivitas ini juga memperhitungkan lanskap situs yang tak terputus di mulut gua saja. Karena UNESCO juga mempertimbangkan kawasan sekitar situs yang dikhawatirkan dapat bersinggungan dan berpotensi merusak cagar.

Untuk pertama kalinya, BPCB Samarinda melibatkan hampir seluruh petugas cabang dan UPT di Indonesia di lapangan untuk membantu. Adapula partisipasi dari kalangan mahasiswa Universitas Mulawarman yang peduli pada pelestarian situs budaya.

“Ini luar biasa. Pertama kalinya BPCB melibatkan tim besar bersama mahasiswa Unmul. Lalu ada juga bantuan dari Balai Konservasi Borobudur yang menggunakan teknologi 3D Laser Scanning dan aerial landscape menggunakan drone,” katanya.

Setelah mempublikasikan hasil delineasi pertama ini, BPCB berharap dukungan Pemkab Kutim dan masyarakat, karena kawasan karst bukan hanya menjadi cagar budaya. Ada manfaat yang harus didapatkan masyarakat sekitar, salah satu di antaranya pengembangan ekowisata berbasis masyarakat. (*)

Reporter : Qadli Fachruddin    Editor : M. Nasir



Comments

comments


Komentar: 0