29 Juni 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Imbas Kebijakan Tiongkok, Harga Batu Bara Anjlok 15 Persen


Imbas Kebijakan Tiongkok, Harga Batu Bara Anjlok 15 Persen

Harga batu bara acuan periode awal 2017 terjungkal lagi di angka US$ 86,23 per ton. Padahal akhir 2016 lalu, harga batu bara naik ke level tertinggi dalam beberapa tahun yaitu US$ 101,67 per ton.

Jika dibandingkan dengan akhir 2016, maka penurunan harga batu bara acuan awal 2017 berada di kisaran 15 persen.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengemukakan penurunan harga terjadi lantaran kebijakan Cina yang mengatur perdagangan batu bara kalori tinggi, supaya berada di bawah US$ 100 per ton. 

"Mereka berusaha mengatur trade coal dengan kalori 6.322 agar berada di bawah US$ 100 per ton," ujar Juru Bicara Kementerian Energi Sujatmiko kepada Tempo, Kamis, 12 Januari 2017.

Penurunan harga batu bara juga disebabkan melemahnya mata uang Cina. Tren tersebut kemudian berimbas pada penurunan harga batu bara di negeri Panda. Diketahui, Cina adalah importir batu bara terbesar Tanah Air.

Sujatmiko mengatakan produksi batu bara tahun ini stabil di angka 413 juta ton, berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Target itu jauh menurun dibanding realisasi produksi tahun lalu sebesar 434 juta ton.

Meski begitu, kata Sujatmiko, harga batu bara bakal tetap stabil lantaran meningkatnya alokasi batu bara domestik yang diprediksi mencapai 121 juta ton tahun depan. Angka yang lebih besar dibanding realisasi tahun lalu sebesar 90,55 juta ton.

Untuk jangka panjang, penggunaan batu bara bakal stabil melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) mulut tambang. Menteri Energi Ignasius Jonan sebelumnya mengatakan PLTU mulut tambang krusial karena pengembangan listrik harus berdasarkan sumber energi yang tersedia di wilayah masing-masing.

Misalnya di Sumatera Selatan, sebagian besar setrum harusnya berasal dari energi batu bara. Sebab daerah ini termasuk penyimpan cadangan batu bara terbesar di Indonesia.

Skema tersebut, kata Jonan, mutlak diperlukan supaya biaya pembangkitan listrik semakin murah. Saat ini biaya penyediaan listrik bertambah lantaran komponen biaya angkut yang cukup besar. Akibatnya, listrik yang dihasilkan tidak efisien. (*)

TEMPO.CO

Reporter : TEMPO.CO/ROBBY IRFANY    Editor : Basir Daud



Comments

comments


Komentar: 0