20 Juli 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Ekspedisi Potensi Wisata, Dispar Kutai Timur Jelajah Hutan Lindung Wehea


Ekspedisi Potensi Wisata, Dispar Kutai Timur Jelajah Hutan Lindung Wehea
Kepala Seksi Promosi dan Pariwisata Dispar Kutim, Yunita Ronting (tengah), bersama tim ekspedisi Hutan Lindung Wehea (Kliksangatta/Imran R Sahara)

KLIKSANGATTA.COM -  Pemkab Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Pariwisata (Dispar) Kutim, menyiapkan tim ekspedisi tahap II di Taman Lindung Wehea, Kecamatan Muara Wahau pada, tanggal 8 sampai 9 April 2017 mendatang.

Agenda ekpedisi tahap II itu sekaligus untuk menghadiri perayaan pesta adat Lom Plai di Desa Nehas Liah Bing, Muara Wahau, sebagai upaya promosi dan memperkenalkan potensi pariwisata daerah yang ada di Kutai Timur.

"Ekspedisi ini merupakan agenda tahunan Dinas Pariwisata, ini sudah kita siapkan tim ekspedisi tahap II di hutan lindung Wehea. Rencannya kita akan berangkat tanggal 7 April sekaligus menghadiri penutupan perayaan pesta ada Lom Plai pada tanggal 8 April 2017 nanti," ujar Kepala Seksi Promosi dan Pariwisata Dispar Kutim, Yunita Ronting, Senin, 27 Maret 2017.

Selain agenda promosi, kunjungan tim ekspedisi ke perayaan pesta adat Lom Plai, lanjut Yunita, untuk melakukan koordinasi dengan pemuka adat dan para tokoh masyarakat Wehea terkait dengan rencana penetapan pesta ada Lom Plai masuk dalam agenda tahunan pemerintah.

"Kalau bisa ditetapkan waktunya, tahun depan kegiatan pesta adat Lom Plai bisa kita ramaikan dari awal acara, biar lebih ramai," katanya.

Selama berada di lokasi, tim ekspedisi II kata Yunita, akan menginap di dalam hutan selama satu malam. Masing-masing anggota akan menyiapkan bekal dalam ekspedisi tersebut.

"Jadi perlengkapannya akan kita siapkan, seperti makanan dan perlengkapan kemah atau alat-alat kebutuhannya lainnya. Kita akan dokumentasikan proses perjalanan kita nantinya sebagai tujuan promosi dari segala potensi pariwisata daerah," tuturnya.

Sekedar diketahui, Hutan Lindung Wehea terletak di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur dengan luas kawasan ± 38.000 ha. Jarak Kecamatan Muara Wahau dari Kota Sangatta ibu Kota Kabupaten Kutai Timur berkisar 275 km atau sekitar 450 km dari Kota Samarinda, ibukota Kalimantan Timur.

Secara ekologis, Hutan Lindung Wehea menjadi penyangga tiga sub DAS masing-masing Sungai Sub-Das Seleq, Sungai Sub-DAS Melinyiu dan Sungai Sub-DAS Sekung. Tiga Sub Sungai itu yang bermuara ke sungai Mahakam.

Sejak tahun 2003 sampai 2006 Pemkab Kutim bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat The Nature Conservancy (TNC) mengadakan penelitian terkait dengan kekayaan yang terdapat di dalam hutan Wehea.

Dari penelitian TNC tesebut, di Wehea ada 12 hewan pengerat, 9 jenis primata, 19 jenis mamalia, 114 jenis burung, dan 59 jenis pohon bernilai. Masih ada 760 ekor lebih orangutan. Kekayaan flora yang terungkap baru 12.000 hektar. Saat ini dilakukan penelitian oleh peneliti dari Indonesia, Jepang, dan Amerika Serikat.

Berbeda dengan kawasan konservasi lingkungan yang lain di Kaltim, maka kelestarian kawasan hutan lindung itu karena keperdulian tinggi Dayak Wehea dalam menjaga lingkungannya. Warga Dayak Wehea melalui lembaga adatnya telah mengeluarkan berbagai keputusan penting di dalam menjaga kelestarian kawasan itu.

Misalnya membentuk "Kelompok Pelindung Hutan" terdiri dari puluhan warga Dayak Wehea yang bertugas mengamankan kawasan itu dari berbagai kerusakan baik dari akfitas illegal logging maupun bencana kebakaran hutan dan lahan.

Kearifan lokal masyarakat dalam menjaga kelestarian itu ternyata mendapat sorotan internasional, terbukti merebut juara III (tiga) dalam penghargaan "Schooner Prize Award 2008" di Vancouver, Kanada.

Penghargaan berhadiah 1.000 dollar Amerika Serikat itu sebagai bentuk pengakuan bahwa model pengelolaan konservasi hutan Wehea dinilai sangat adaptif dan sesuai perkembangan zaman sehingga menduduki peringkat hutan terbaik ketiga di dunia.

Hutan itu sebelumnya adalah eks-hutan ekploitasi perusahaan HPH (hak pengusahaan hutan) PT Gruti III. Pada 1995 digabung dengan PT Inhutani II menjadi PT Loka Dwihutani. Tahun 2003, hutan dievaluasi Pemprov Kaltim dan kondisinya dinilai masih baik.

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono juga memberikan penghargaan bagi kearifan lokal warga Dayak Wehea itu pada 5 Juni 2009 dengan menganugerahkan trofi Kalpataru.

Trofi itu kini tersimpan rapi pada salah satu ruang di rumah Kepala Adat Wehea merupakan bentuk penghargaan pemerintah pada 2009 kepada warga setempat yang diwaliki Ledjie Taq. (*)

Reporter : Imran R Sahara    Editor : Basir Daud



Comments

comments


Komentar: 0