20 Juli 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Ngarai Hijau, Surga Kecil yang Tersembunyi di Bumi Kutai Timur


Ngarai Hijau, Surga Kecil yang Tersembunyi di Bumi Kutai Timur
Ngarai Hijau atau Air Terjun Batu Lapis, destinasi baru wisata alam Kutai Timur yang terletak di Kecamatan Kaliorang (IST)

Ngarai Hijau, yang sekarang dikenal dengan sebutan Air Terjun Batu Lapis, ibarat oase di tengah hamparan tambang batubara dan perkebunan sawit di Kutai Timur. Memancarkan pesona alam hutan yang masih perawan, Ngarai Hijau sering kerap disebut surga kecil yang tersembunyi. 

Namanya memang belum terkenal, maklumlah memang hingga saat ini masih belum banyak orang yang berkunjung karena terbatasnya akses jalan. Hanya masyarakat sekitar saja yang kerap mengunjungi ari terjun indah dengan bebatuan keras disekitarnya ini.

Air Terjun Batu Lapis terhubung dengan sungai kecil berjarak 1 kilometer dari poros Jalan Raya Kecamatan Kalioarang.

Kendati belum maksimal karena masih berupa jalan setapak dan semak belukar, namun akses menuju Air Terjun Batu Lapis tidaklah sulit dilalui. Setidaknya diperlukan waktu sekitar 30 menit berjalan kaki untuk bisa sampai di air terjun yang masih perawan ini.

Jika berangkat dari ibukota Sangatta, waktu tempuh perjalanan mencapai 2 jam dengan menggunakan sepeda motor.

Etik Hariyani, salah seorang Staf Pemberitaan dan Pelayanan Informasi Publik (PPIP)-Bagian Humas dan Protokol Kutim, telah merasakan langsung perjalanan istimewa menemukan mutiara terpedam yang dimiliki Kabupaten Kutim ini.

Saat ke tempat tersebut, Yani sapaan akrab Etik Hariyani, mengaku sangat menikmati perjalanannya. Sebelum sampai ke air terjun, karena bakal berjalan kaki, maka dia memilih memarkir motor di halaman rumah penduduk yang merupakan warung portal camp 3 milik Karsono, Ketua RT 15, Desa Kaliorang.

Perjalanan yang tidak terburu-buru akhirnya memancing bibirnya untuk menyeruput teh hangat terlebih dahulu sambil sejenak menghilangkan penat. 

Perjalanan sepanjang 1 km menjadi terasa lebih dekat ke Lokasi Air Terjun Batu Lapis karena menyusuri jalan setapak yang menurun. Pemandangan kanan-kiri masih sangat asri, tetapi harus berhati-hati sebab masih banyak semak belukar berduri di sepanjang jalan.

Lelahnya berjalan kaki selama 30 menit seolah terbayar oleh suguhan pemandangan yang luar biasa indahnya. Tebing batu berlapis-lapis  yang berdiri megah kokoh menjulang langsung menyapa.

Di bawah tebing  mengalir  sungai dengan air sejuk yang bening, menyeliputi bebatuan eksotis. Saking alaminya, bahkan saat tak sengaja terteguk, air di tempat tersebut terasa seperti air mineral kemasan merk terkenal. 

“Wah, benar-benar sangat menggoda kita untuk mandi dan berenang menikmati keindahan alam, ciptaan yang maha Agung,” kata Yani.  

Saat di sekitar air terjun, berjalan menyusuri aliran sungai sambil menikmati udara segar seperti sedang menikmati terapi psikologi yang menyenangkan, dalam suasana tenang dan damai langsung dapat dirasakan.

Apalagi disebelah kanan-kiri terhampar tebing batu berlapis-lapis yang eksotis dengan pepohonan rindang.  

“Bahkan saya serasa seperti hendak menitikkan air mata haru ketika mendapati air terjun Batu Lapis dengan danau berwarna hijau tosca yang tersembunyi diantara tebing batu berlapis-lapis ditempat itu,” kata Yani yang sehari-harinya menyunting pidato Bupati Kutim.

Meskipun tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 7 meter, namun Air Terjun Batu Lapis sanggup memancarkan pesona luar biasa dengan cerukan-cerukan cantik yang memudahkan pengunjung mandi dan berenang di bawah aliran airnya.

Tentunya ditemani harmoni gemericik air dan angin sepoi-sepoi. Menurut Yani, mandi dan berenang di danau jernih  berwarna hijau tosca dibawah air terjun menjadi pengalaman yang sangat menakjubkan. Terlebih secara kasat mata danau kecil dengan kedalaman hingga 20 meter ini punya pemandangan luar biasa bagaikan surga kecil yang tersembunyi. 

Seperti dituturkan sala satu Relawan Peduli Wisata Kutai Timur (RPWKT), alkisah nama awal tempat itu adalah Air Terjun Mangkok, kemudian diubah oleh Komunitas Pencinta Alam Bengalon menjadi  “Ngarai Hitam”.

Lalu diubah lagi menjadi “Ngarai Hijau” agar tak berkesan seram. Kemudian menyesuaikan warna danaunya yang hijau jernih, diubah lagi menjadi Air Terjun Batu Lapis. Akhirnya nama ini disepakati dan dicantumkan pada papan imbauan dan petunjuk oleh Sekdes Kaliorang  bekerjasama dengan PT Indexim Coalindo  serta komunitas  Relawan Peduli Wisata Kutai Timur. 

Kalaupun ada mitos dan cerita angker dari mulut ke mulut, ternyata hal itu hanyalah rekayasa belaka. Mitos terbentuk dikarenakan warga sekitar percaya air terjun memiliki penunggu. yakni sosok putri cantik yang ramah dan murah senyum apabila bertemu, tetapi sama sekali tidak mengganggu pengunjung.  

Sekdes Kaliorang Moh Asri menjelaskan bahwa, ada larangan dan imbauan untuk masyarakat yang berkunjung.  Karena itu, pengunjung diminta selalu menjaga sikap, menjaga kebersihan, tidak boleh merusak dan mencoret tebing dan bebatuan,  tidak boleh membakar terasi dan ikan kering serta  jangan berkunjung saat hujan panas.

“Larangan itu tidak boleh dilanggar karena menghormati kearifan lokal setempat.Larangan berkunjung juga berlaku pada saat dan setelah hujan turun. Serta pada senja hari saat kabut seringkali turun demi keselamatan pengunjung” ujar Asri.

Menurut Asri, masyarakat sekitar kerap melakukan syukuran makan-makan besar apabila mendapat rejeki lebih sebagai wujud ucapan syukur. Warga setempat juga  terbilang sangat ramah kepada pengunjung, bahkan seringkali penduduk secara sukarela menawarkan diri untuk mengantar ke lokasi Air Terjun Batu Lapis.

Sungguh Kekayaan Alam yang luar biasa  dan masih sangat terjaga keindahannya. Tentunya potensi ini menjadi kebanggaan masyarakat di Kecamatan Kaliorang, Kabupaten Kutim dan Provinsi Kaltim pada umumnya. (hms)

Reporter : Humas Pemkab Kutim    Editor : Basir Daud



Comments

comments


Komentar: 0