22 September 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Mengasah Kecerdasan Anak dengan Dongeng


Mengasah Kecerdasan Anak dengan Dongeng

Oleh: Nadia Mar’atu Sholihah          

Mahasiswi Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang

Dalam masa perkembangan dan pertumbuhan, anak selalu menyerap dan mempelajari hal disekitarnya khususnya saat usia 3-4 tahun yang sering disebut sebagai the golden age. Maka dari itu, dibutuhkan perhatian lebih dari orang tua dalam mendidik anak. Salah satu cara yang efektif untuk mendidik  anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangannya  adalah dengan mendongeng.

Mendongeng menjadi metode pembelajaran mudah dan menarik, karena semua anak pasti akan suka dengan dongeng. Banyak sekali manfaat yang didapatkan dari kegiatan mendongeng, selain dapat menanamkan nilai kehidupan dan menjadikan anak berperilaku baik, ternyata mendongeng juga dapat meningkatkan kecerdasan intelektual.

Ada perkataan Albert Einstein yang berbunyi “If you want your children to be intelligent, read them fairytales. If you want them to be more intelligent, read them more fairytales”. Cerita dalam dongeng akan mengembangkan imajinasi, kreativitas dan meningkatkan kemampuan berfikir anak. Apabila mendengar cerita yang baru, anak akan membuat hubungan dengan cerita lain dan membuat pola pada otak sehingga anak dapat berimajinasi dengan membayangkannya.

Mendongeng dapat meningkatkan memori dan melatih konsentrasi karena saat mendapatkan cerita anak akan mencoba berkonsentrasi mendengarkan cerita. Anak juga mulai berfikir kritis dan berlogika tentang hubungan sebab akibat.

Mendongeng dengan membacakan buku cerita akan mengenalkan anak dengan buku dan anak akan tertarik untuk membaca. Minat membaca akan membuat anak memiliki kebiasaan membaca sehingga akan meningkatkan wawasan dan kosakata. Banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa kebiasaan membaca sebelum usia sekolah dapat membuat anak saat sekolah senang belajar dan berlaku baik.

Hal ini tentunya merupakan harapan dari setiap orang tua. Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di Pediatrics, anak-anak yang terbiasa membaca di rumah akan menunjukkan aktivasi area otak yang jauh lebih besar. Membacakan cerita kepada anak akan membangun jaringan diotak yang dalam jangka panjang akan beralih dari dibacakan cerita menjadi kebiasaan membaca.

Kebiasaan membaca akan berdampak besar dalam kecerdasan intelektual anak.  Salah satu dampak positif dari membaca yang terkait dengan kesehatan kita adalah: membaca berpengaruh positif pada otak. Kegiatan ini mengalirkan darah menuju otak, meningkatkan fungsi dan konektivitas otak, serta terbukti meningkatkan kemampuan berpikir setelah dilakukan dalam beberapa hari. 

Menurut Paul C. Burns, Betty D. Roe & Elinor P. Ross dalam Teaching Reading in Today’s Elementary School, bahwa ada delapan aspek yang bekerja saat kita membaca, yaitu aspek sensori, persepsi, sekuensial (tata urutan kerja), pengalaman, berpikir, belajar, asosiasi, dan afeksi. Kedelapan aspek ini bekerja secara bersamaan saat kita membaca. Oleh karena itu, semakin sering anak membaca buku maka semakin banyak sel otak yang terkoneksi, sel-sel otak yang terkoneksi inilah yang membuat anak menjadi cerdas.

Mendongeng juga dapat meningkatkan kecerdasan berbahasa. Dalam dongeng terdapat begitu banyak kata, sehingga dongeng dapat dikatakan sebagai sumber pengalaman berbahasa bagi anak-anak. Perbendaharaan kata yang banyak dalam dongeng akan meningkatkan kemampuan berbicara sehingga anak dapat menyampaikan maksud dan tujuan dengan tepat.

Selain itu, anak akan mudah memahami bacaan maupun perkataan orang lain. Terdapat sebuah penelitian di Rumah Sakit Rhode Island membandingkan dua kelopok anak berusia 8 bulan yang dibacakan cerita dan tidak dibacakan cerita, hasilnya pada anak yang dibacakan cerita terdapat peningkatan pemahaman kosakata.

Orang tua seharusnya perhatian dan selektif terhadap dongeng yang akan dibacakan karena pesan yang disampaikan tiap cerita berbeda, tergantung dari dongeng yang dipilih. Sebelum memilih cerita, orang tua harus membaca terlebih dahulu dan memastikan pesan apa yang terkandung di dalamnya.

Pilihlah cerita yang memiliki pesan baik dengan karakter tokoh kuat atau cerita yang dapat menggambarkan cita-cita masa depan anak. Hindari membacakan cerita yang dapat membawa mimpi buruk atau cerita dengan tokoh yang tidak dapat melakukan apapun tanpa bantuan orang lain. Terlepas dari cerita yang dibacakan fiksi atau tidak, pilihkan pesan terbaik untuk anak.

Pada kenyataannya saat ini di Indonesia budaya membacakan dongeng kepada anak sudah mulai langka. Tidak banyak orang tua yang sempat dan mau membacakan dongeng kepada anaknya. Untuk itu orang tua diharapkan dapat menghidupkan kembali budaya mendongeng. Setidaknya sempatkanlah waktu 15 menit sehari untuk membacakan dongeng.

Perlu disadari bahwa manfaat yang didapat dari membacakan dongeng tidak hanya akan dirasakan oleh anak tetapi juga dapat dirasakan oleh keduanya karena mendongeng secara rutin cukup efektif dalam mengakrabkan hubungan antara orang tua dengan anaknya. 

Reporter :     Editor : Eky Sambora



Comments

comments


Komentar: 0