20 Januari 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

4 Warga Kutim Terjangkit Difteri, Butuh Penanganan Massal


4 Warga Kutim Terjangkit Difteri, Butuh Penanganan Massal

KLIKSANGATTA.COM - Empat warga Kutim positif mengidap difteri. Pemkab telah menetapkan peristiwa tersebut sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Agar penyebaran penyakit mematikan itu tak meluas, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim berencana menggelar vaksinasi dan imunisasi massal.

Beberapa pekan lalu memang ditemukan 26 suspect Difteri di Kutim. Sampel dari suspect tersebut lalu dikirim ke Jakarta untuk diuji laboratorium. Hasilnya cukup mengagetkan, ada empat orang terjangkit difteri. Masing masing tiga dewasa dan satu anak-anak.Tiga diantaranya merupakan satu keluarga. Sedangkan satu pengidap lainnya bermukin di tempat berbeda. Beruntung seluruh penderita telah dinyatakan sembuh.

Yuana Sri Kurniati, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kutim mengatakan, ada beberapa langkah yang telah diambil pasca penetapan KLB. Diantaranya koordinasi dengan lintas sektor, tim teknis, sosialisasi internal dinas, dan ke sekolah, kades, dan posyandu.

“Pekan depan (15 November 2018) kami akan buka posko imunisasi,” kata Yuana.

Hanya saja posko tersebut cuma dibuka di dua lokasi, yakni Kecamatan Sangatta Utara dan Sangatta Selatan. Dua wilayah ini dipilih karena ditemukan lebih banyak suspect.

“Imuniasi tidak diberikan kepada semua, hanya yang berumur 0 sampai 19 tahun. Imunisasi dilakukan bertahap, yaitu di Januari, Februari, dan Agustus,” katanya.

Imunisasi Satu-satunya Cara Mencegah Penularan

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Aman B Pulungan mengatakan, satu-satunya cara untuk mencegah penularan difteri adalah melalui imunisasi. Difteri sangat mudah menular melalui udara, yaitu lewat nafas atau batuk penderita.

Ia mengatakan, anak yang sudah mendapatkan imunisasi difteri secara lengkap seharusnya tidak tertular penyakit tersebut. "Tetap jaminan itu dari Allah. Masalahnya imunisasinya cukup dan lengkap atau tidak," kata Pulungan, saat dihubungi di Jakarta, seperti dikutip Antara.

Karena mudahnya penularan penyakit difteri, penderita yang dirawat di rumah sakit biasanya diisolasi dan tidak boleh dikunjungi untuk mencegah penularan. Difteri adalah penyakit yang disebabkan bakteri Corynebacterium diphteriae dan dapat menyebabkan kematian terutama pada anak-anak.

Difteri memiliki masa inkubasi dua hari hingga lima hari dan akan menular selama dua minggu hingga empat minggu. Penyakit itu sangat menular dan dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani secara cepat.

Gejala awal difteri bisa tidak spesifik seperti demam tidak tinggi, nafsu makan menurun, lesu, nyeri menelan dan nyeri tenggorokan, sekret hidung kuning kehijauan dan bisa disertai darah. Namun, difteri memiliki tanda khas berupa selaput putih keabu-abuan di tenggorokan atau hidung yang dilanjutkan dengan pembengkakan leher atau disebut dengan bull neck.

Pada 6 Desember lalu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, sebanyak 66 persen dari keseluruhan kasus difteri yang terjadi sepanjang 2017 di seluruh Indonesia adalah karena penderitanya tidak diimunisasi. “Ini kenyataannya bahwa sebagian besar tidak diimunisasi,” kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Muhammad Subuh.

Menurut Subuh, 66 persen kasus difteri yang ada karena tidak ada imunisasi sama sekali, 31 persen imunisasi kurang lengkap, dan 3 persen lainnya imunisasi lengkap. Pada Januari hingga November 2017, tercatat 593 kasus difteri terjadi di Indonesia dengan angka kematian 32 kasus. Kasus tersebut terjadi di 95 kabupaten-kota pada 20 provinsi. (*)

Reporter : Ayub Fardani    Editor : Qadlie Fachruddin



Comments

comments


Komentar: 0