19 September 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Pencalonan Jokowi dan Upaya PDIP Mendominasi Kursi DPR


Pencalonan Jokowi dan Upaya PDIP Mendominasi Kursi DPR
Presiden Jokowi Hadiri Rakernas I PDIP di Bali, Minggu (25/2/2018). (Foto: Faizal Fanani/liputan6)

KLIKSANGATTA.COM – Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia (PDIP) memastikan Joko Widodo sebagai calon presiden pada Pilres 2019 yang ditetapkan melalui Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III di Bali, Minggu 25 Februari 2018.

PDIP mengakui pencalonan Jokowi itu juga bagian dari upaya mendominasi dua pemilu penting, Pilkada Serentak 2018 dan raihan kursi DPR RI pada Pileg 2019.

Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Eriko Sotarduga, mengatakan, target partai mendapat kursi legislatif mencapai 140-154 kursi. Survei dan kondisi politik disebutkan sebagai latar belakang ambisi itu dipasang.

"Kami sudah hitung dengan konsistensi data yang ada, minimal didapatkan antara 140-154 kursi DPR RI. Target itu sangat memungkinkan karena di Pemilu 2014 kami memperoleh 109 kursi DPR RI," kata Eriko, usai penutupan Rakernas III PDI Perjuangan di Denpasar, Bali.

Ia mengklaim hasil survei internal partainya, ada perolehan kenaikan jumlah suara 22-32 persen dari Pemilu 2014. Angka itu dianggap titik terendah serta melihat ambang batas parlemen sebesar empat persen, sehingga muncul target 140-154 kursi.

Efek elektabilitas dan popularitas Jokowi diakui dapat menaikkan target perolehan kursi DPR ditambah hasil survei yang menunjukkan hampir 80 persen sosok Jokowi diidentikan dengan PDI Perjuangan, ia menambahkan.

"Semua saling melengkapi, apakah salah ketika partai mendapatkan bonus ketika kader terbaiknya menjadi presiden? Itu proses kaderisasi dan regenerasi, proses perekrutan serta pematangan yang dipimpin Ketua Umum PDI Perjuangan," katanya.

Pengamat politik, Toto Sugiarto mengatakan dukungan PDIP terhadap Jokowi terbilang wajar karena kesan Jokowi merupakan sosok yang memang berada di bawah naungan partai tersebut. "Memang tidak ada pilihan lain untuk PDIP dalam mencalonkan orang karena sejauh ini elektabilitas Jokowi lah yang paling tinggi dalam berbagai survei," ujar Toto.

Pilihan mendukung Jokowi pun menjadi tawaran yang sulit ditolak bagi parpol lainnya, contohnya Golkar. Setelah Golkar menyatakan dukungannya kepada Jokowi untuk melanjutkan pemerintahannya, perlahan ‘image’ Golkar terbangun kembali usai kasus hukum yang menerpa mantan ketua umumnya, Setya Novanto.

Penggantinya, Airlangga Hartanto adalah Menteri Perindustrian Kabinet Kerja. Disusul Sekretaris Jenderal Golkar saat itu Idrus Marham menjadi Menteri Sosial menggantikan Khofifah Indar Parawansa yang mencalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Timur 2018.

Timbal balik ‘kedekatan’ dinilai semakin terlihat ketika Jokowi 'mempertahankan' Airlangga di Kabinet Kerja. Dia saat ini menjadi satu-satunya pembantu presiden yang merangkap jabatan sebagai ketua umum partai. (*)

Reporter : Ayub Fardani/ berbagai sumber    Editor : Eky Sambora



Comments

comments


Komentar: 0