18 Oktober 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Berita Rekomendasi

Menyambut Motrik MSD, Mobil Listrik Buatan PT KPC Pertama di Kaltim


Menyambut Motrik MSD, Mobil Listrik Buatan PT KPC Pertama di Kaltim
Tim Motrik MSD KPC bersama unit mobil listriknya dalam uji coba terbuka bersama awak media di MD 3 Swarga Bara, Rabu (6/6/2018). (Foto: Ardan)

KLIKSANGATTA.COM – Disela-sela kesehariannya sebagai pekerja di perusahaan pertambangan batu bara, karyawan PT. Kaltim Prima Coal (KPC) yang tergabung dalam sebuah tim kecil berhasil mengubah mobil konvensional berbahan bakar minyak (BBM) menjadi mobil bertenaga listrik yang disebut Mobil Listrik (Motrik) MSD.

Karya tangan Wiwin Sujati sebagai Project Manager tim Motrik MSD, beserta para anggotanya yakni Sahirul Alim, Eko Prasetyo, Suhud Maryanto dan Oldwan Ferdalis ini cukup mengejutkan karena dibuat oleh karyawan salah satu perusahaan tambang batubara terbesar nasional. Hasilnya, sebuah unit yang hidup “kembali” dengan jiwa baru.

Motrik ini memang berawal dari mobil Chevlovet Blazer keluaran 1999 yang sudah dimuseumkan. Sampai akhirnya, Wiwin yang juga Manager Excavator Maintenance dari Mining Support Division (KPC) dan timnya memilih mobil tua itu sebagai kelinci percobaan.

Pengerjaan motrik terbilang memakan waktu lama karena riset dan pengerjaannya dilakukan di luar jam aktif kerja. Proyek inovatif ini dimulai pada tahun 2015 sebagai pilot project, pengubahan mobil kovensional dengan pengerak utama berupa motor listrik yang sumber energinya berasal dari baterai (accu). Akhir tahun 2016, motrik mulai menemukan bentuknya.

"Akhir 2016 kita sudah melakukan uji coba tapi masih ada kekurangan, dan perlu adanya perbaikan, sehinga akhirnya tahun 2017, Motrik KPC ini betul-betul bisa dan dikatakan layak dioperasikan," ungkap Sahirul Alim, anggota tim yang menjabat Superintendent Component Management di MSD KPC ketika mengenalkan motrik kepada awak media dalam uji coba terbuka, Rabu 6 Juni 2018.

Dibantu tim dari Light Vehicle Maintenance Section, Motrik MSD yang jelas  lebih ramah lingkungan ketimbang mobil berbahan bakar BBM ini diperkuat dengan tenaga baterai sebanyak 48 buah atau sekitar 3,2 Volt. Bukan hanya tidak berpolusi karena tak berasap, penggunaan mobil bertenaga listrik ini dipastikan lebih irit.

"Dari studi perbandingan kami, Motrik MSD ini sendiri bisa menghemat 47 persen dari penggunaaan bahan bakar mobil konvensional pada umumnya, itu sudah termaksud bahan bakar, ganti oli dan sebagainya, " terang Sahirul Alim.

/images/img_galeri/41MOTRIK MSD KPC.jpg

Dalam penjelasannya, daya tempuh motrik bisa mencapai 100 km per jam dengan masa pengecasan 3-4 jam hingga baterai terisi penuh. Baterai yang digunakan disebut didatangkan dari Cina karena belum adanya produsen dalam negeri yang memenuhi kebutuhan spefikasi tim.

"Baterai yang kami gunakan bisa dibilang kualitas terbaik, memang cukup mahal (mencapai Rp 300 juta), tapi dari catatan dan hasil riset tim, bahan baterai kita gunakan ini bisa bertahan kurang lebih sampai tiga tahun,"  tambah Eko Prasetyo, anggota tim lainnya.

Secara fisik tidak ada perbedaan dengan mobil pada umumnya. Motrik sendiri juga masih menggunakan persneling manual, aman dioperasikan meskipun masih akan terdapat sejumlah penambahan untuk mempercantik mobil masa depan ini.

Motrik dengan nomor lambung LS 500 ini sudah dioprasikan di Mining Support Division (MSD) area tambang KPC. Bahkan sudah mendapat penghargaan Platinum Award dari kompetisi Indonesia CSR Award (ICA) 2017, kategori terobosan energi terbarukan.

Superintendent Public Communication External Affairs KPC Yordan Ampung, menuturkan hadirnya Motrik merupakan salah satu program PT KPC melalui Mining Support Division (MSD) dengan didukung oleh Department HSES System  dalam mengembangkan potensi pemanfaatan energi terbarukan.

"Motrik ini merupakan ssalahsatu terobosan PT KPC dalam mencari energi alternatif terbarukan,  kami juga sudah melakukan sisitem tenaga air (Miko Hidro) dibekas galian tambang sebagai pembagkit tenaga listrik,” tuturnya.

Diharapkan, lanjut dia, motrik yang  pertama kali diciptakan di Kalimantan timur (Kaltim) ini bisa terus dikembangkan, baik untuk penggunaan yang lebih luas (komersil) maupun operasional pertambangan PT KPC dalam mendukung kemajuan industri yang lebih ramah terhadap lingkungan. (*)

Reporter : Ardhan Ahmad    Editor : Qadlie Fachruddin



Comments

comments


Komentar: 0